Beberapa budaya khas Desa Tanjungrejo yang terus dilestarikan:
Batik
Batik khas Desa Tanjungrejo mengangkat kekayaan alam sekaligus nilai historis yang menjadi identitas desa. Motif batik ini memadukan unsur buah dan bunga tanjung, sawo kecik, mertega, serta bunga kemuning. Setiap motif dipilih karena memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan karakter masyarakat dan sejarah perjuangan.
Bunga tanjung mengandung filosofi sarwa ingkang tansah njungkung, sarwa laku becik, supaya pinaringan merdika, yang bermakna harapan agar setiap orang senantiasa menjunjung tinggi kebaikan dalam setiap perilaku sehingga memperoleh kemerdekaan atau kebebasan dalam arti lahir maupun batin. Sementara itu, bunga kemuning menjadi simbol yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro. Selain dikenal karena keharumannya, kemuning dimaknai sebagai lambang kebermanfaatan bagi sesama dan dipercaya sebagai salah satu bunga yang menjadi kesukaan Pangeran Diponegoro. Melalui perpaduan motif tersebut, batik khas Desa Tanjungrejo tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi media untuk melestarikan sejarah, filosofi, dan identitas budaya desa.
Pakaian Adat
Pakaian adat Desa Tanjungrejo merupakan identitas budaya yang lahir dari penelusuran sejarah dan karakter masyarakat setempat. Perumusannya mengacu pada hasil kajian sejarah mengenai tokoh-tokoh Desa Tanjungrejo yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Mataram dan Mangkunegaran, serta mempertimbangkan letak geografis dan budaya masyarakat Kabupaten Madiun.
Busana adat laki-laki mengenakan blangkon gaya Mataram yang memiliki ciri khas bagian belakang berbentuk mondholan (tonjolan). Atasan berupa baju berlengan panjang dengan lengan yang dilinting sebagai simbol karakter masyarakat Madiun yang dikenal sebagai Kota Pendekar, mencerminkan sikap tangguh, siap bekerja, dan sederhana. Untuk bawahan tidak ditentukan secara khusus, dapat berupa celana maupun sarung bermotif gunungan.
Motif gunungan dipilih karena memiliki makna filosofis yang mendalam. Gunungan melambangkan kekayaan alam, keagungan, dan sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan, serta hewan. Dalam pewayangan, gunungan juga menjadi simbol perjalanan hidup manusia dalam mengendalikan hawa nafsu. Di dalamnya terkandung makna tentang nafsu amarah yang dilambangkan oleh buta (raksasa) sebagai representasi sifat pemarah dan destruktif, nafsu lawwamah yang menggambarkan kecenderungan manusia mengikuti keinginan duniawi, serta nafsu mutmainah sebagai lambang jiwa yang tenang dan mampu mengendalikan hawa nafsu menuju kebajikan.
Sebagai pelengkap, perlengkapan seperti tombak mengadopsi corak Mangkunegaran dengan dominasi warna kuning dan hijau sebagai simbol yang mencerminkan warisan budaya tersebut. Sementara itu, pakaian adat perempuan berupa kebaya yang dipadukan dengan batik khas Desa Tanjungrejo bernuansa hitam sehingga memberikan kesan anggun, berwibawa, dan mencerminkan identitas budaya lokal.
Pakaian adat Desa Tanjungrejo digunakan dalam berbagai kegiatan resmi, seperti acara pemerintahan desa, kegiatan keagamaan, serta kegiatan adat dan budaya. Busana ini umumnya dikenakan oleh perangkat desa, kelembagaan desa, dan tokoh masyarakat sebagai wujud pelestarian identitas budaya Desa Tanjungrejo.
Budaya Khas
Salah satu budaya khas yang menjadi identitas Desa Tanjungrejo adalah Tari Gambyong Parianom. Nama Parianom berasal dari istilah pari enom yang berarti padi muda, hal ini diambil karena penari mengenakan kebaya warna kuning, selendang hijau, dan jarik putih. Padi muda dipilih sebagai simbol karena memiliki perpaduan warna hijau dan kuning yang melambangkan kesuburan, harapan, serta kemakmuran masyarakat agraris.
Tari Gambyong Parianom memiliki gerakan yang sigrak atau penuh semangat, sehingga mampu menampilkan kesan dinamis, anggun, dan berwibawa. Tarian ini umumnya dipentaskan sebagai tari penyambutan untuk menerima tamu penting yang berkunjung ke Desa Tanjungrejo, selain menjadi bentuk penghormatan kepada tamu.
Makanan Khas
Desa Tanjungrejo memiliki beberapa makanan khas yang tidak hanya menjadi kuliner tradisional, tetapi juga mengandung nilai filosofi dan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat, khususnya dalam tradisi pertanian. Makanan khas tersebut antara lain kicak, uler-uler, dan horog-horog. Pertama adalah Kicak, merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar gaplek. Proses pembuatannya diawali dengan gaplek yang ditu00e8tu00e8l atau ditekan dibentuk menyerupai jadah, kemudian diiris, diberi gula merah, dan dikukus hingga matang.
Selain kicak, terdapat pula uler-uler yang memiliki makna filosofis dalam tradisi pertanian masyarakat. Uler-uler merupakan makanan berbahan dasar tepung beras yang dibentuk menyerupai ulat dengan menggunakan pelepah pisang. Nama uler-uler berasal dari bahasa Jawa yang berarti ulat. Makanan ini digunakan dalam tradisi slametan atau kenduri ketika tanaman padi mulai berbunga. Tradisi tersebut merupakan bentuk doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tanaman padi terhindar dari berbagai hama dan penyakit, terutama ulat yang menjadi simbol perusak tanaman padi.
Makanan khas lainnya adalah horog-horog yang juga memiliki filosofi mengenai kehidupan masyarakat agraris Desa Tanjungrejo. Horog-horog juga merupakan makanan khas Desa Tanjungrejo yang jenisnya hampir menyerupai kue putu. Makanan ini dibuat dari campuran tepung beras, tepung ketan, dan parutan kelapa dengan tekstur yang sumyur atau berbutir seperti pasir. Bentuk tersebut menggambarkan kondisi tanah Desa Tanjungrejo pada masa lalu yang kering saat musim kemarau. Melalui filosofi horog-horog, masyarakat berharap tanah yang semula kering dapat menjadi subur dan pulen sehingga mampu mengikat akar tanaman padi dengan baik. Filosofi ini juga menjadi pengingat akan perubahan kondisi Desa Tanjungrejo yang dahulu mengalami kesulitan air, namun kini memiliki sumber air yang melimpah.
